Lima kendala dalam pembelajaran daring

Tadarus

Pandemik Covid-19 yang melanda seluruh masyarakat dunia, berpengaruh terhadap perilaku kehidupan seluruh lapisan masyarakat. Dampak yang luar biasa ini menciptakan tatanan baru pola kehidupan manusia di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kehidupan New Normal pun akan segera diterapkan di berbagai bidang, baik itu pemerintahan, pendidikan, ekonomi, bisnis, keagamaan juga layanan publik lainnya.

Bidang Pendidikan misalnya, pembelajaran siswa yang biasa dilakukan di sekolah, kini akan dilaksanakan secara bergiliran. Tidak setiap hari siswa datang ke sekolah, satu pekan belajar di sekolah, satu pekan kemudian belajar di rumah secara daring dan begitu seterusnya.

Ketika mengharuskan siswa belajar di rumah secara daring, sedikitnya ada 5 kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran daring, terutama siswa yang bersekolah di daerah:

1. Tidak memiliki Hand Phone (HP)

Zaman sekarang memiliki HP/gadget hukumnya sudah “wajib”. Karena hampir semua interaksi kehidupan masyarakat, tidak lepas dari HP yang sudah bisa terkoneksi dengan jaringan internet. Jika tidak, seolah kita hidup dalam keterasingan.

Namun pada kenyataannya yang terjadi pada masyarakat di daerah, karena keterbatasan ekonomi, mereka kesuliatan membeli HP. Jangankan beli HP, untuk makan sehari-hari saja masih kesusahan. Banyak diantaranya siswa yang berasal dari keluarga seperti ini, mereka tidak memiliki HP.

2. Memiliki Hand Phone tetapi masih Jadul

Ada juga siswa yang sudah memiliki HP, tetapi masih jadul (jaman dulu) alias tidak bisa support dengan aplikasi yang berbasis jaringan. HP-nya bukan android, hanya bisa SMS atau telephone saja. Jelas keadaan siswa seperti ini, pembelajaran daring pasti terkendala.

3. Memiliki Hand Phone, tetapi tidak punya kuota

Siswa sudah meiliki HP yang support system, karena sudah android, sayangnya mereka pulsa dan kuotanya terbatas. Di daerah, pulsa dan kuota terbilang masih mahal, sehingga untuk mengisi kuota atau pulsa cukup sekali saja dalam satu bulan dan itu pun kuotanya terbatas. Sedangkan pembelajaran daring membutuhkan kuota yang banyak, maka pembelajaran daring menjadi tidak efektif.

4. Jaringan internet bermasalah

Kendala yang keempat adalah jaringan internet yang buruk. Siswa sudah punya HP android, kuota tidak terbatas, sayang jaringan internetnya buruk. 

Mereka harus mencari tempat yang jaringannya bagus. Tidak jarang harus naik ke puncak bukit dibelakang rumahnya, itu pun hasilnya tidak maksimal karena bukan 4G.

5. Aliran listrik sering putus

Permasalahan terakhir ini, sering dialami oleh masyarakat di daerah. Terputusnya aliran listrik mengakibatkan tidak hanya aliran listrik saja yang hilang, tetapi jaringan internet pun ikut hilang. 

Bayangkan ketika pembelajaran daring dilaksanakan, tiba-tiba aliran listrik mati, maka saat itu lah pembelajaran daring selesai. HP android punya, kuota sudah OK, jaringan sudah 4G, tetapi listrik sering putus, maka pembelajaran daring tidak bisa terlaksana.

Kelima permasalahan inilah yang biasanya dihadapi siswa dan guru di daerah. Alhasil, berbagai cara harus dilakukan oleh guru dan pihak sekolah, demi pendidikan siswa, meskipun tidak efektif. Apalah daya, karena pendidikan adalah hak semua anak bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

Statistic Pengunjung

User Online : 0
Visitor Today : 3
Visit Today : 8
Total Visitor : 871
Total Visit :2413